Sponsored
HUT RI ke-81
Sponsored Content HUT RI ke-81
Pasang Iklan

134 KK Korban Gempa Asal Marapokot, Nagekeo Bertahan dalam Satu Tenda, Kekurangan Air Bersih dan Makanan

Emanuel Boli
Dilihat 216x
Waktu Baca ± 2 Min
Bagikan Artikel
134 KK Korban Gempa Asal Marapokot, Nagekeo Bertahan dalam Satu Tenda, Kekurangan Air Bersih dan Makanan
Warga asal Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda pengungsian di kawasan perbukitan sekitar Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo Kredit: Adik Tali

Nagekeo- Ratusan warga asal Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda pengungsian di kawasan perbukitan sekitar Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, tiga hari setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).

Kondisi para pengungsi memprihatinkan. Mereka, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, tidur beralaskan terpal dan bertahan dengan makanan seadanya. Persediaan makanan maupun air bersih masih menjadi persoalan utama.

Salah satu lokasi pengungsian berada di Bukit Air Panas, Nagekeo. Warga yang mengungsi di kawasan tersebut mengaku belum mendapatkan bantuan yang memadai.

“Kami mau mengadu ke siapa, air minum saja tidak ada,” kata seorang pengungsi Nagekeo saat berbicara dengan sukarelawan gempa bumi, Afik Tali, warga Marpokot, Senin, 17 Agustus 2026.

Afik merupakan salah satu warga yang turut mengalami musibah gempa, tetapi memilih menjadi sukarelawan untuk membantu warga lainnya. Ia mendapat dukungan bantuan air bersih untuk disalurkan kepada para pengungsi.

Afik kemudian meminta informasi kepada pengungsi setempat mengenai lokasi penyaluran air bersih sebanyak lebih dari 1.000 liter tersebut. Setelah mendapatkan informasi, ia menyampaikan bahwa penyaluran air bersih segera dilakukan.

“Mau masak air di mana, mau omong juga air mata jatuh,” kata seorang warga dalam video yang dikirim Afik.

Warga tersebut sempat mengadu kepada aparat Kepolisian yang kebetulan sedang berada di lokasi pengungsian. Ia mengungkapkan, masih banyak warga yang bertahan di kawasan perbukitan. Setidaknya terdapat tiga titik pengungsian di kawasan tersebut.

“Dari tiga titik itu belum pernah dapat bantuan sama sekali. Jumlah kalau keseluruhan belum tahu, kami baru turun satu titik, dua lainnya belum,” kata Afik saat dihubungi dari Kupang, Senin.

134 KK Berdesakan dalam Satu Tenda

Sementara itu, di posko tempat Afik mengungsi, setidaknya terdapat 134 kepala keluarga (KK) dalam satu tenda pengungsian. Seluruh warga tersebut berasal dari Marapokot, salah satu desa pesisir yang paling parah terdampak gempa bumi.

Afik bersama warga lainnya bertahan dengan kondisi seadanya. Bantuan berupa sembako, obat-obatan, dan air bersih yang mereka miliki kemudian disalurkan kepada warga di lokasi pengungsian lainnya yang membutuhkan.

Ia mengatakan, akses menuju Kabupaten Nagekeo masih sulit. Jalur utara hingga kini belum dapat dilalui. Sementara jalur dari sisi selatan yang sempat dibuka kembali mengalami longsor.

“Kita juga hancur, tapi masih aman ada keluarga baku bantu. Tapi ada yang lain, pasrah, ada yang tidak punya keluarga,” kata Afik.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan dasar pengungsi menjadi semakin mendesak, terutama air bersih, makanan, obat-obatan, serta tempat perlindungan yang layak. ** (I/EB)

Reaksi Pembaca:

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan