Hadapi Perubahan Iklim, Petani Todanara Diperkuat Lewat Pelatihan Pertanian Adaptif
Lembata - Pemerintah Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, bekerja sama dengan Tim IDEP dan LSM BARAKAT menyelenggarakan Pelatihan Pertanian Cerdas Iklim selama tiga hari, pada 15–17 April 2026.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya petani, dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui praktik pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.
Pelatihan yang berlangsung di Balai Pertemuan Desa Todanara dan Rumah Pariwisata ini diikuti puluhan peserta dari kalangan petani dan masyarakat setempat. Kegiatan meliputi penyampaian materi, diskusi partisipatif, serta praktik langsung di lapangan.
Selama pelatihan, peserta memperoleh pemahaman mengenai perubahan iklim yang berdampak pada sektor pertanian, seperti perubahan pola curah hujan, pergeseran waktu tanam, serta meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman.
Kondisi tersebut diketahui telah menyebabkan penurunan hasil produksi pada berbagai komoditas, antara lain jagung, padi ladang, dan tanaman hortikultura.
Sebagai solusi, fasilitator Sayu Komang memperkenalkan konsep pertanian cerdas iklim yang mengedepankan tiga prinsip utama, yakni pengolahan tanah minimum, pemulsaan, dan pengaturan pola tanam.
“Pendekatan ini dinilai relevan dengan kondisi wilayah kering seperti Desa Todanara karena memanfaatkan sumber daya lokal serta mengurangi ketergantungan pada bahan kimia,” ungkapnya dalam keterangan yang diterima HighlightNTT, Sabtu, 26 April 2026, malam.
Selain itu, peserta juga dilatih menerapkan teknik konservasi lahan, seperti pembuatan teras dan penggunaan bahan organik sebagai pupuk alami.
Dalam praktik lapangan, peserta melakukan pembersihan lahan, pengolahan lubang tanam, penanaman berbagai jenis tanaman dalam sistem polikultur, hingga uji pH tanah.
Selama dua hari praktik lapangan, peserta berhasil menghasilkan demplot percontohan dengan total 236 tanaman yang ditanam dan akan dikelola secara berkelanjutan oleh kelompok peserta.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya pengendalian hama secara alami serta penggunaan benih lokal guna meningkatkan kemandirian petani.
Penggunaan bahan kimia secara berlebihan dinilai berpotensi merusak lingkungan, termasuk ekosistem pesisir.
Selain itu, peserta diperkenalkan pada sistem wanatani, yakni integrasi antara pertanian, peternakan, dan tanaman umur panjang untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.
Kepala Desa Todanara, Fransiskus Boli, dalam arahannya menyampaikan komitmen pemerintah desa untuk mendukung pengembangan pertanian cerdas iklim serta mengimplementasikan sistem wanatani di wilayah tersebut.
“Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan mampu membangun sistem pertanian yang lebih tangguh, produktif, dan ramah lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim," katanya
Selain itu, ia berharap peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di lahan masing-masing dan menjadi contoh bagi petani lainnya.
Ke depan, sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan lembaga mitra diharapkan terus diperkuat guna meningkatkan ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan masyarakat.** (SM)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
KUR BRI Bantu Hana Pertahankan Usaha Kantin di Tengah Persaingan, Kini Punya 2 Pekerja
KUR BRI Bantu Ansi Kembangkan Usaha Sembako hingga Miliki Empat Titik Usaha
Akses KUR BRI Dorong Usaha Henos Tumbuh dan Buka Lapangan Kerja
Rote Ndao Siap jadi Lumbung Garam Nasional, Pemerintah Optimistis Perkuat Swasembada Garam Indonesia
PT Jamkrindo Gandeng Pemda Sumba Timur Perluas Akses KUR bagi UMKM
FMN Kupang Desak Gubenur NTT Cabut Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025, Sebut Kebijakan Anti-rakyat
Jamkrindo Siap Jamin KUR BPD NTT Rp350 Miliar pada 2026
Zainudin Umar: Informasi Ketersediaan Pupuk 194.600 Ton di NTT Harus Sampai ke Petani
Menakar Dampak Jangka Panjang Proyek Strategis Nasional
Belajar dari Madura, Pascasarjana Undana Dorong Pengembangan Industri Garam Berkelanjutan di NTT