Kejatuhan Jenderal Puntadewa

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 79x
Waktu Baca ± 8 Min
Bagikan Artikel
Kejatuhan Jenderal Puntadewa
Jenderal Listyo Sigit Prabowo (Mantan Kapolri, Mantan Kepala Staf Kepresidenan) Kredit: Istimewa

Oleh: FN Sambi Dede (Pegiat Media Sosial)

OPINI- Lampu-lampu di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, perlahan meredup. Ruang yang biasanya bergema dengan riuh penonton yang berbisik kini hening, hanya tersisa suara irama gamelan yang perlahan naik, lembut namun memikat. Di atas panggung yang dihiasi lukisan alam khayangan Jawa, tirai perlahan terbuka. Bukan bayangan kulit kayu yang tampak, melainkan sosok-sosok nyata, mengenakan busana kebesaran yang berkilau di bawah sorot lampu.

Di tengah panggung perwayangan itu berdiri sejumlah pemeran utama dari Petinggi Negara. Bukan dengan seragam dinas, melainkan jubah Pandawa yang anggun. Panglima TNI Laksamana Yudo Margono berperan sebagai Bima Sena, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berperan sebagai Prabu Puntadewa, Kasad Jenderal Dudung Abdurachman berperan sebagai Batara Guru, Kasal Laksamana Muhammad Ali berperan sebagai Dewa Baruna, dan Kasau Marsekal Fadjar Prasetyo berperan sebagai Eyang Abiyasa.

Acara ini diinisiasi oleh TNI Angkatan Laut dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera. Pementasan ini menggandeng sekitar 400 pemain, termasuk lintas unsur TNI-Polri, para purnawirawan, serta seniman profesional dari kelompok Wayang Orang Bharata dan Wayang Orang Sriwedari.

Ini bukan sekadar pertunjukan biasa. Di hadapan ratusan penonton yang memenuhi ruangan, kisah kuno yang telah diwariskan turun-temurun itu hidup kembali, namun dengan wajah-wajah yang tak terduga. Kapolri Jenderal Sigit tampil sebagai Yudhistira — sosok yang dikenal dengan kebijaksanaan dan kebenaran, sementara Panglima TNI Jenderal Yudo memerankan Bima — simbol kekuatan yang tak terpisahkan dari ketulusan hati. Di samping mereka, para pejabat lain juga tampil berpadu harmonis, menghapus sekat-sekat jabatan yang biasanya memisahkan mereka.

Pementasan Pandawa Boyong sendiri menceritakan perjalanan panjang kelima bersaudara Pandawa yang harus meninggalkan istana mereka, melewati hutan belantara dan menghadapi berbagai rintangan, demi mempertahankan kebenaran dan menjaga keutuhan persaudaraan. Kisah tentang kepergian dan kepulangan, tentang cobaan dan kesetiaan.

Saat Bima mengangkat suaranya dalam dialog yang penuh semangat, ruangan seakan menahan napas. Tak ada aura komando militer di sana — yang terlihat hanyalah seorang tokoh yang membela kebenaran dengan segenap jiwanya. Saat Yudhistira berbicara tentang kejujuran meski di tengah keadaan yang sulit, banyak penonton yang mengangguk pelan, seakan pesan itu ditujukan langsung kepada diri mereka sendiri.

Di balik keindahan kostum dan keluwesan gerak para pemain, ada pesan yang jauh lebih dalam, - bahwa segala bentuk kejahatan dan keserakahan akan hancur oleh kebaikan dan ketulusan (Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti), -bahwa pentingnya merajut kembali perdamaian, persatuan, dan rekonsiliasi demi kesejahteraan rakyat, bukan terus-menerus merayakan kemenangan perang. Ini semua tentunya menjadi pengingat bagi para pemimpin untuk selalu mengutamakan kepentingan rakyat di atas ambisi pribadi atau golongan.

Keterlibatan langsung Panglima TNI, Kapolri, para Kepala Staf Angkatan, serta seniman profesional (Wayang Orang Bharata) membawa pesan sosial-politik yang kuat bagi masyarakat Indonesia, yaitu sinergitas dan soliditas nasional. Kehadiran para petinggi TNI dan Polri di atas panggung melambangkan kekompakan dan persatuan yang kokoh antara institusi keamanan negara dalam menjaga keutuhan NKRI. Sementara panggung seni perwayangan yang kental dengan budaya nusantara menjadi ajakan nyata kepada generasi muda bahwa kebudayaan daerah, warisan luhur yang bernilai tinggi dan harus tetap dijaga di era modern.

Penonton tak hanya terpukau oleh penampilan, namun juga terharu melihat bagaimana dua institusi penting negara ini tampil bersanding dalam satu panggung, saling melengkapi layaknya kelima bersaudara Pandawa. Di tengah masa yang kadang terasa terbelah, pertunjukan ini menjadi pengingat manis: bahwa kekuatan sejati bangsa ini bukan terletak pada senjata atau pangkat, melainkan pada persatuan yang tulus di hati setiap insan.

Saat adegan terakhir berakhir dan para pemain melangkah ke depan panggung, tepuk tangan meledak panjang, menggema hingga ke lorong-lorong teater. Malam itu, di tengah Jakarta yang sibuk, sejenak kita semua diboyong ke dunia di mana kebenaran dan kebersamaan menjadi bintang penunjuk jalan. Sebuah pertunjukan yang tak hanya menghibur, namun juga merenungkan — bahwa kisah para Pandawa belum selesai, dan kita semua adalah bagian dari kisah itu.

Jenderal Puntadewa

Saat sorot lampu jatuh lembut ke tengah panggung, ada satu sosok itu berdiri tenang dengan jabatan mentereng. Tidak ada pangkat di bahu, tidak ada insignia dinas. Yang tampak hanyalah pria berbusana kebesaran raja, dengan sikap yang rendah namun memancarkan wibawa yang tak perlu diteriakkan. Itu Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yang malam itu hidupkan kembali sosok Prabu Puntadewa, atau Yudistira — tokoh yang dalam dunia perwayangan Jawa adalah inti dari segala kebenaran.

Dalam epos Mahabharata dan tradisi perwayangan Nusantara, Puntadewa adalah putra sulung Pandawa. Ia bukan yang terkuat secara fisik — itu adalah kelebihan saudaranya, Bima. Bukan pula yang paling cerdik pandai atau mahir senjata — itu Arjuna. Namun dialah yang diakui sebagai pemimpin kelima bersaudara itu, dan kelak menjadi raja yang bijaksana di Kerajaan Amarta.

Ketokohan Puntadewa dibangun di atas empat pilar utama: kejujuran mutlak, kebijaksanaan, kesabaran yang tak bertepi, dan rasa keadilan yang hidup di hatinya. Ia dikenal sebagai raja yang tak pernah berkata dusta. Bahkan dalam keadaan terdesak sekalipun, ia memilih memegang janji daripada mengambil jalan pintas. Banyak yang menganggapnya terlalu lembut, terlalu pemaaf — padahal justru di situlah kekuatan sejatinya. Kekuatan yang menaklukkan dengan kebenaran, bukan dengan kekuasaan.

Melihat Sigit memerankan tokoh ini, seakan ada benang merah yang menyatukan dua dunia yang tampak jauh berbeda. Sebagai Kapolri, ia memimpin ribuan personel dengan ketegasan hukum. Namun di atas panggung, ia menampilkan sisi lain yang tak kalah penting: keteguhan pada nilai-nilai luhur, Sang Jenderal Puntadewa.

Gerakannya tenang, tidak berlebihan. Saat berbicara, nada suaranya rendah namun tegas — persis seperti sifat Puntadewa yang tidak perlu meninggikan suara untuk didengar. Dalam adegan ketika ia harus memilih antara mempertahankan kebenaran atau mengorbankan prinsip demi keamanan, ekspresi wajahnya menyiratkan beban berat yang dipikul seorang pemimpin. Penonton seakan diajak memahami: bahwa menjadi pemimpin sejati berani kehilangan segalanya asal kebenaran tetap terjaga.

Ada satu momen yang menyentuh banyak penonton. Ketika Puntadewa berkata, "Bukan singgasana yang membuat raja agung, melainkan bagaimana raja memperlakukan rakyatnya dengan jujur dan adil." Saat itu, keheningan menyelimuti ruangan. Bagi yang hadir, pesan itu terasa begitu dekat — seakan diucapkan bukan hanya dari tokoh wayang, tapi dari hati seorang pemimpin yang sedang merenungkan makna jabatannya.

Pilihan Sigit memerankan Puntadewa bukan kebetulan. Tokoh ini adalah pengingat bahwa di atas segala aturan dan kekuasaan, ada keutamaan yang lebih tinggi: kejujuran dan keadilan. Di zaman yang kadang bingung membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar menguntungkan, kehadiran sosok Puntadewa di panggung TIM itu menjadi cermin bagi kita semua.

Saat pertunjukan usai dan tepuk tangan bergema, satu hal terpatri jelas di hati: Prabu Puntadewa bukan sekadar tokoh masa lampau. Nilai-nilainya masih hidup, masih relevan, dan masih sangat kita butuhkan. Dan ketika seseorang yang memegang tanggung jawab besar di negeri ini menghidupkan tokoh tersebut di atas panggung, itu bukan sekadar seni pertunjukan — itu adalah sebuah janji kesadaran: bahwa di atas segalanya, kita semua harus berusaha menjadi jujur, seperti Puntadewa.

Bayangan di Balik Layar: Kejatuhan Jenderal Puntadewa

Hampir tiga tahun kemudian, pada awal November 2026, publik Indonesia terguncang. Berita yang menyebar begitu cepat tak kalah dari petir di siang bolong: Mantan Kapolri, Listyo Sigit Prabowo, kini Kepala Staf Kepresidenan, resmi ditetapkan sebagai tersangka. Bersama dua jenderal lainnya, ia diduga terlibat dalam jaringan penyadapan ilegal terhadap nomor telepon Presiden Prabowo Subianto, pejabat negara, tokoh politik, hingga insan media — berlangsung berbulan-bulan tanpa prosedur hukum yang sah.

Aparat hukum menyebut, sistem penyadapan milik Polri yang seharusnya digunakan untuk menindak kejahatan berat, justru disalahgunakan untuk mengintai pemegang kekuasaan tertinggi negara. Lebih dari itu, dugaan penghapusan data elektronik dilakukan untuk menutup jejak perbuatan tersebut.

Publik bertanya-tanya: bagaimana seorang yang dipercaya memegang amanat tertinggi di institusi penegak hukum, justru melanggar hukum itu sendiri? Bagaimana seseorang yang diposisikan sebagai benteng keamanan negara, ternyata menjadi ancaman bagi keamanan tertinggi negara itu sendiri?

Kini, jika kita menengok kembali cerita malam di TIM itu, ada kesan ironi yang menyayat hati. Sosok yang dipersamakan dengan Prabu Puntadewa ternyata tidak mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi tokoh pewayangan tersebut.

Prabu Puntadewa rela kehilangan kerajaannya demi kebenaran. Listyo Sigit justru diduga mengorbankan kebenaran demi kepentingan yang tidak diketahui siapa — menyadap atasannya, menyembunyikan informasi, dan menghapus jejak. Puntadewa tidak pernah berbohong; di sini justru kepercayaan yang diberikan pimpinan disalahgunakan untuk kepentingan tersembunyi.

Prabu Puntadewa taat pada dharma, bukan pada ambisi. Ia menghormati aturan permainan meski itu merugikan dirinya. Sebaliknya, dugaan perbuatan penyadapan terhadap presiden — atasannya sendiri — menunjukkan sikap yang jauh dari sifat Puntadewa: ketidakjujuran, pelanggaran kepercayaan, dan ketidaktaatan pada aturan.

Pada akhirnya, kejatuhan Listyo Sigit bukanlah cerita tentang kehendak takdir yang tiba-tiba. Ini adalah kisah klasik tentang apa yang terjadi ketika seseorang lupa pada siapa ia melayani. Seorang jenderal yang lupa bahwa kekuasaannya adalah titipan, bukan hak. Bahwa loyalitas sejati bukanlah mencari-cari kelemahan pimpinan, melainkan menjaga kehormatan pimpinan dan institusi dengan jujur dan terbuka.

Presiden Prabowo Subianto mencopotnya dari jabatan strategis yang dipegangnya. Dari puncak pengaruh yang nyaris tak tersentuh, ia kini berdiri di hadapan hukum sebagai tersangka.

Seperti dalam setiap cerita wayang, dalang mungkin menentukan alurnya, tetapi setiap tokoh tetap memilih perannya sendiri. Listyo Sigit memilih jalannya sendiri — dan jatuh karenanya. Prabu Puntadewa mungkin kehilangan kerajaannya, tetapi namanya abadi karena ia setia pada kebenaran. Jenderal ini mungkin memegang banyak kekuasaan, tetapi ia jatuh karena melupakan satu hal paling mendasar: bahwa kepercayaan yang dikhianati, tak akan pernah kembali. **

Reaksi Pembaca:

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan