Kleptomania: Ketika Mencuri jadi Gangguan Mental, Butuh Penanganan Medis
Kleptomania selama ini kerap dipandang masyarakat sebagai tindakan kriminal biasa. Padahal, kondisi tersebut merupakan gangguan mental yang membuat penderitanya sulit mengendalikan dorongan untuk mencuri.
Banyak orang belum memahami bahwa pelaku kleptomania sering kali mencuri bukan karena kebutuhan ekonomi atau niat jahat, melainkan karena dorongan impulsif yang sulit ditahan.
Kleptomania termasuk dalam kelompok gangguan kendali impulsif, yakni gangguan yang menyebabkan seseorang kesulitan mengontrol emosi dan perilaku.
Kondisi ini umumnya muncul sejak masa remaja, meski tidak menutup kemungkinan terjadi saat seseorang telah dewasa. Penderita biasanya mencuri barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan atau bahkan tidak bernilai tinggi.
Fenomena ini menjadi persoalan serius karena tidak hanya berdampak pada aspek hukum, tetapi juga kesehatan mental penderitanya.
Jika tidak ditangani, kleptomania dapat memicu gangguan emosional berat, rasa malu berkepanjangan, depresi, hingga munculnya keinginan untuk menghilangkan nyawa dengan cara tidak wajar. (Sumber: Mayo Clinic)
Hingga kini, penyebab pasti kleptomania belum diketahui secara jelas. Namun, sejumlah penelitian dan pendapat medis menduga kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan senyawa kimia di otak.
Penurunan kadar serotonin yang berfungsi mengatur suasana hati diduga memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengendalikan impuls.
Selain itu, ketidakseimbangan sistem opioid dan pelepasan dopamin juga dianggap berperan dalam munculnya rasa puas setelah mencuri.
Beberapa faktor juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kleptomania. Di antaranya memiliki riwayat keluarga dengan gangguan serupa, kecanduan alkohol, penyalahgunaan narkoba, atau mengalami gangguan mental lain seperti depresi, gangguan bipolar, kecemasan, maupun gangguan kepribadian.
Gejala kleptomania memiliki karakteristik yang berbeda dengan pencurian biasa. Penderita umumnya tidak mampu menahan dorongan mencuri, meskipun barang yang diambil tidak diperlukan.
Mereka sering merasa cemas dan tegang sebelum mencuri, lalu merasakan kepuasan sesaat setelah berhasil melakukannya. Namun setelah itu, muncul rasa bersalah, malu, takut tertangkap, dan penyesalan mendalam.
Menariknya, tindakan pencurian pada penderita kleptomania kerap dilakukan secara spontan dan seorang diri, tanpa perencanaan matang seperti yang lazim terjadi pada tindak kriminal.
Barang yang dicuri pun sering kali tidak digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada penderita yang membuang barang tersebut, memberikannya kepada orang lain, atau menyimpannya tanpa tujuan jelas.
Penderita kleptomania juga umumnya mencuri di tempat-tempat umum seperti toko dan supermarket. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan mencuri barang milik teman atau kenalan ketika berada di pesta atau keramaian.
Perilaku ini bukan didorong oleh keinginan balas dendam, kemarahan, atau halusinasi, melainkan murni karena dorongan impulsif yang kuat.
Sayangnya, masih banyak penderita yang enggan mencari bantuan medis karena takut diproses hukum atau dicap buruk oleh masyarakat.
Padahal, para ahli kesehatan mental menegaskan bahwa kleptomania adalah kondisi medis yang memerlukan penanganan profesional, bukan sekadar hukuman sosial.
Diagnosis kleptomania dilakukan melalui wawancara medis dan evaluasi psikologis. Dokter akan menilai dorongan mencuri yang dialami pasien, termasuk perasaan sebelum dan sesudah melakukan pencurian.
Dalam beberapa kondisi, pemeriksaan tambahan seperti CT scan atau MRI kepala dapat dilakukan untuk memastikan tidak ada gangguan lain pada otak.
Penanganan kleptomania umumnya dilakukan melalui psikoterapi dan pemberian obat-obatan. Salah satu metode yang sering digunakan ialah terapi perilaku kognitif.
Melalui terapi ini, pasien diajak memahami konsekuensi dari tindakan mencuri serta belajar mengendalikan impuls melalui teknik relaksasi dan penguatan kontrol diri.
Selain terapi, dokter juga dapat memberikan obat antidepresan jenis selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) untuk membantu menstabilkan emosi pasien.
Pada beberapa kasus, obat antagonis opioid digunakan guna mengurangi dorongan mencuri dan rasa senang setelah melakukan pencurian.
Apabila tidak ditangani, kleptomania dapat menimbulkan berbagai komplikasi, baik secara psikologis maupun sosial.
Penderitanya berisiko mengalami depresi, kecanduan alkohol, penyalahgunaan narkoba, gangguan kecemasan, gangguan makan, hingga percobaan “bundir”. Kondisi tersebut juga dapat merusak hubungan keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sosial seseorang.
Karena penyebab pastinya belum diketahui, belum ada langkah pasti untuk mencegah kleptomania. Namun, penanganan sedini mungkin diyakini mampu mencegah gangguan ini berkembang menjadi lebih parah serta mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul.
Pada akhirnya, masyarakat perlu memahami bahwa kleptomania bukan sekadar kebiasaan buruk atau tindakan kriminal biasa. Gangguan ini merupakan persoalan kesehatan mental yang memerlukan empati, dukungan, dan penanganan medis yang tepat.
Semakin cepat seseorang mendapatkan bantuan profesional, semakin besar peluang untuk mengendalikan dorongan mencuri dan menjalani hidup secara lebih sehat serta stabil secara emosional.
Jika seseorang atau orang terdekat menunjukkan gejala yang mengarah pada kleptomania, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau psikolog agar mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini. Sumber (alodokter.com). **(RED.)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi