Pelajar TTU Siap Sukseskan Gerakan Jam Belajar Masyarakat untuk Perbaikan Pendidikan NTT
TTU– Dukungan terhadap implementasi Peraturan Gubernur (Pergub) NTT Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat terus mengalir.
Kali ini, dukungan datang dari kalangan pelajar. Ketua OSIS SMAN 2 Kefamenanu, Jens Leltakaeb, menyatakan kesiapan siswa untuk mendukung sekaligus mengawal pelaksanaan kebijakan tersebut karena dinilai mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif bagi peserta didik.
Pernyataan tersebut disampaikan Jens di hadapan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, saat kunjungan kerja dan sosialisasi Pergub Nomor 24 Tahun 2026 di SMAN 2 Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (11/6/2026).
Jens menuturkan, sejak kebijakan itu mulai diperkenalkan, para siswa merasakan manfaat dari meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mendukung proses belajar di rumah.
“Siswa-siswi merasa terbantu dengan adanya pengawasan langsung dan bimbingan dari orang tua di rumah sehingga suasana lingkungan sekitar cenderung lebih kondusif karena masyarakat ikut menjaga ketenangan dengan membatasi aktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Siswi kelas XI tersebut juga menegaskan kesiapan OSIS untuk membantu mengawasi implementasi Pergub di lapangan agar tujuan kebijakan benar-benar dirasakan para pelajar.
“Kami siap membantu mengawasi pelaksanaannya sehingga Pergub ini bisa berjalan dengan baik,” katanya.
Dukungan dari kalangan siswa muncul di tengah upaya Pemerintah Provinsi NTT membenahi kualitas pendidikan daerah yang saat ini menghadapi berbagai tantangan serius.
Dalam arahannya, Gubernur Melki Laka Lena mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) nasional, NTT berada di peringkat ke-36 dari 38 provinsi di Indonesia.
“Kita harus jujur mengakui bahwa pendidikan NTT tidak sedang baik-baik saja. Ini fakta yang harus kita terima. Kalau tidak melakukan perubahan secara serius dan mendasar, kita sedang menuju situasi yang lebih buruk,” tegas Melki.
Melki mengatakan, kondisi tersebut menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orang tua hingga masyarakat.
Ia menjelaskan persoalan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah karena terjadi pergeseran peran keluarga dan masyarakat dalam proses pendidikan anak.
“Dulu, pendidikan itu pertama dan terutama ada di keluarga. Sekarang seolah-olah semuanya diserahkan kepada sekolah. Ini yang harus kita perbaiki bersama,” tukasnya.
Sebagai langkah memperkuat ekosistem pendidikan, Pemerintah Provinsi NTT menerbitkan Pergub Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat.
Melalui kebijakan tersebut, masyarakat diajak menciptakan suasana belajar yang kondusif setiap hari mulai pukul 18.00 hingga 19.30 WITA.
Pada rentang waktu tersebut, orang tua didorong mendampingi anak belajar di rumah, sementara masyarakat diminta menjaga ketenangan lingkungan agar proses belajar berlangsung optimal.
“Kita hanya minta satu setengah jam dalam sehari. Orang tua mendampingi anak belajar, keluarga berkumpul, bisa berdoa bersama, makan bersama, dan memastikan anak-anak menggunakan waktunya untuk belajar. Ini momen emas keluarga yang harus kita hidupkan kembali,” kata Melki.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mendukung gerakan tersebut dengan menghentikan sementara aktivitas yang berpotensi mengganggu konsentrasi belajar anak, termasuk penggunaan musik dengan volume tinggi saat pesta atau kegiatan masyarakat lainnya.
“Kalaupun ada pesta, jam enam sampai setengah delapan malam musik bisa dihentikan dulu. Setelah itu silakan dilanjutkan kembali. Kita sedang memikirkan masa depan anak-anak NTT,” ujarnya.
Selain Gerakan Jam Belajar Masyarakat, Gubernur Melki juga mendorong penguatan komunikasi antara sekolah dan orang tua melalui penggunaan buku komunikasi siswa.
Buku tersebut diharapkan menjadi sarana pertukaran informasi mengenai perkembangan akademik maupun perilaku siswa, baik di sekolah maupun di rumah.
“Harus ada komunikasi yang teratur antara sekolah dan orang tua. Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” katanya. ** (OP/RHL02)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi