Yuni Tefa Terpilih Aklamasi sebagai Ketua Presidium PMKRI Kupang 2026/2027
Kupang, HighlightNTT.com- Clara Yunita Tefa atau Yuni Tefa terpilih secara aklamasi sebagai Mandataris/Formatur Tunggal/Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang periode 2026/2027.
Ia membawa 10 agenda yang berfokus pada penguatan kaderisasi, intelektualitas, jejaring alumni, kepemimpinan perempuan, dan keberpihakan terhadap persoalan masyarakat.
Yuni terpilih dalam Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC) yang berlangsung di Sekretariat atau Margajuang63 PMKRI Kupang, Jalan Jenderal Soeharto Nomor 20, Naikoten, Kota Kupang, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Mantan Presidium Gerakan Masyarakat PMKRI Kupang itu menjadi perempuan kedua yang memimpin organisasi tersebut setelah Vera Aja, yang menjabat pada periode 2013/2014.
Dalam visi kepemimpinannya, Yuni ingin menjadikan PMKRI Cabang Kupang sebagai rumah pembinaan kader Katolik yang berakar pada iman, bertumbuh dalam intelektualitas, dan memperjuangkan kemanusiaan.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan organisasi beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kekatolikan, keadilan, kesetaraan, dan semangat kaderisasi.
Sepuluh misi Yuni Tefa
Misi pertama adalah mengembalikan PMKRI pada khitah perjuangannya. Ia ingin memperkuat arah gerakan organisasi agar sejalan dengan ajaran sosial Gereja Katolik serta menghidupkan tiga benang merah PMKRI, yakni Kristianitas, Intelektualitas, dan Fraternitas, dalam proses kaderisasi maupun perjuangan organisasi.
Kedua, membangun PMKRI sebagai rumah diskusi dan produksi gagasan. Untuk itu, ia mendorong pembukaan ruang diskusi, kajian, sekolah kader, forum lintas disiplin, dan pertukaran gagasan yang melibatkan alumni, akademisi, tokoh Gereja, profesional, aktivis, serta berbagai elemen masyarakat.
"Kader tidak cukup hanya mampu berbicara tentang persoalan. Mereka juga harus dapat membaca situasi, menganalisis masalah, dan menawarkan solus," ujarnya, Sabtu.
Ketiga, ia berencana membangun ekosistem distribusi kader berbasis jejaring alumni. Hubungan kader dan alumni, menurut gagasannya, harus menjadi rantai perjuangan yang berkelanjutan.
Ia berharap, alumni berperan dalam mentoring, pendampingan profesi, pengembangan kapasitas, jejaring kerja, dan pembukaan akses bagi kader untuk berkembang.
Keempat, Yuni ingin mendorong distribusi kader di bidang pendidikan dan studi lanjutan. Ia mengusulkan sistem informasi dan pendampingan bagi kader yang ingin melanjutkan pendidikan, memperoleh beasiswa, mengikuti pertukaran pelajar, melakukan penelitian, maupun mengembangkan kapasitas akademik.
"Kaderisasi tidak boleh berhenti ketika seseorang menyelesaikan masa kepengurusan. Kaderisasi harus terus hidup melalui pendidikan," kata mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kupang itu.
Kelima, mempersiapkan kader yang mampu membaca dan menjawab perubahan zaman. PMKRI, menurut visi tersebut, perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, serta perubahan sosial, ekonomi, politik, dan budaya tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai kekatolikan.
Keenam, Yuni menargetkan penguatan peran dan kepemimpinan perempuan dalam PMKRI. Ia ingin membangun ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk bertumbuh, bersuara, memimpin, mengambil keputusan, dan menjadi penggerak organisasi. Perempuan, dalam pandangannya, bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan subjek utama kaderisasi dan kepemimpinan.
Ketujuh, membangun kader yang berani hadir di tengah persoalan masyarakat. Agenda ini diarahkan pada penguatan keberpihakan terhadap kelompok yang mengalami ketidakadilan melalui gerakan sosial, advokasi, pendidikan masyarakat, kajian kritis, dan pengabdian.
"Kader PMKRI diharapkan tidak hanya berkegiatan di dalam organisasi, tetapi juga hadir secara nyata di tengah kehidupan masyarakat," tegas dia.
Kedelapan, membangun sistem kaderisasi yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Sistem tersebut tidak hanya berorientasi pada kuantitas kader, tetapi juga kualitas karakter, spiritualitas, intelektualitas, kemampuan berorganisasi, kepemimpinan, serta keberanian mengambil tanggung jawab di tengah Gereja dan masyarakat.
Kesembilan, mendorong penguatan sinergi antara Gereja, kampus, alumni, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat. PMKRI Cabang Kupang diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang terbuka dan konstruktif, dengan tetap menjaga identitas serta independensi organisasi.
"Melalui jejaring tersebut, kader diharapkan memiliki ruang perjuangan yang lebih luas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat," katanya.
Kesepuluh, melahirkan kader yang tidak hanya siap memimpin PMKRI, tetapi juga siap memimpin kehidupan. Tujuan akhir kaderisasi, menurut gagasannya, tidak hanya menghasilkan ketua, sekretaris, atau pengurus organisasi, melainkan membentuk manusia yang memiliki iman, ilmu, karakter, keberanian, dan kepekaan sosial untuk mengambil tanggung jawab di mana pun berada. **(RHLNTT03)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Penanganan Kebakaran dan Pengelolaan Sampah di TPA Ncolang Manggarai Terus Diupayakan di Tengah Berbagai Kendala
Diduga Mabuk Miras, Seorang Anak Diduga Aniaya Ayah Kandung hingga Luka di Kepala
Polda NTT Buka Kembali Kasus Dugaan TPPO, 2 Berkas Perkara Lengkap
Usai 1,5 Tahun Pimpin Polda NTT, Rudi Darmoko Serahkan Pataka kepada Reza Arief Dewanto
Mengapa Fenomena Haze di Manggarai Terjadi? Ini Penjelasan Resmi BMKG
Kapolda NTT Reza Arief Dewanto Tiba di Kupang, Serah Terima Pataka Digelar Malam Ini
Dua PMI Asal Lembata dan Flores Timur Meninggal di Malaysia, Ini Penyebabnya
Sepulang dari Gereja, Kalung Warga Kupang Dijambret, 2 Tersangka Diserahkan ke Jaksa
Kabur ke NTT, V.A.T. Ditangkap Polisi di Soe Usai Diduga Tendang Motor Korban hingga Tewas
Ahli Hukum Pidana Minta Kasus Dokter Icha Segera P-21: Jangan Ragu-ragu