20 Pemuda NTB dan NTT Ikuti Bung Hatta Youth Leadership Program 2026 di Mataram
Mataram- Sebanyak 20 orang muda dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti Bung Hatta Youth Leadership Program (BHYLP) 2026 di Kota Mataram, Rabu, 26 Agustus 2026 - Jumat, 28 Agustus 2026.
Program yang digagas Perkumpulan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) bersama Transform NTB tersebut dirancang sebagai pelatihan kepemimpinan yang memadupadankan pembentukan karakter, penguatan kapasitas, refleksi atas persoalan daerah, hingga penyusunan aksi sosial atau Rencana Tindak Lanjut (RTL) peserta.
BHYLP menempatkan integritas, kejujuran, tanggung jawab, keberanian, dan kepentingan publik sebagai fondasi kepemimpinan.
Program ini berangkat dari pemahaman bahwa kepemimpinan tidak cukup dibangun melalui pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membutuhkan nilai sebagai dasar ketika seseorang menggunakan pengaruh, mengambil keputusan, mengelola kepentingan, serta mempertanggungjawabkan dampaknya.
Warisan pemikiran dan keteladanan Mohammad Hatta atau Bung Hatta menjadi titik berangkat program tersebut. Nilai-nilai itu kemudian diterjemahkan ke dalam konteks persoalan yang dihadapi generasi muda dan masyarakat Nusa Tenggara saat ini.
Putri bungsu Bung Hatta sekaligus Ketua Yayasan Hatta, Dra. Halida Nuriah Hatta, M.A., menjadi salah satu narasumber pada hari pertama kegiatan.
Halida menekankan pentingnya membangun generasi muda yang memiliki integritas dan mampu meneruskan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan publik.
Ia juga menyampaikan harapan jangka panjang agar para peserta yang kelak menjadi tokoh di berbagai ruang strategis mampu “mengalirkan suatu gerakan baru.”
Harapan tersebut menjadi bagian penting dari desain BHYLP, yakni menanam nilai hari ini untuk menghasilkan kepemimpinan dan perubahan dalam jangka panjang.
Nusa Tenggara sebagai Ruang Belajar
BHYLP secara khusus dirancang dengan pendekatan kontekstual. Nusa Tenggara tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan, tetapi juga menjadi ruang belajar kepemimpinan.
Para peserta diajak membaca realitas sosial, ekonomi, pendidikan, pembangunan, lingkungan, tata kelola sumber daya, persoalan wilayah kepulauan, serta berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.
Pada saat yang sama, peserta didorong mengenali potensi, kekuatan masyarakat, dan peluang perubahan di daerah masing-masing.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar kepemimpinan tidak berhenti pada pemahaman teoritis. Peserta belajar menghubungkan persoalan dengan konteks, memahami pihak yang terdampak, melihat kepentingan yang beragam, dan merumuskan respons yang bertanggung jawab.
3 Hari dari Refleksi hingga Aksi
Desain BHYLP dibangun dalam alur pembelajaran yang bergerak dari nilai, pengetahuan, refleksi, dialog, hingga aksi.
Pada hari pertama, peserta mendalami konsep dan warisan kepemimpinan Bung Hatta serta membaca tantangan dan masa depan Nusa Tenggara.
Selain Halida Nuriah Hatta, sesi tersebut menghadirkan Mohammad Tohajudin, SE, M.Si., dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi NTB.
Hari kedua membawa peserta pada persoalan integritas, antikorupsi, karakter wilayah kepulauan, dan human-centered leadership.
Pembelajaran menghadirkan Erry Riyana Hardjapamekas, peraih Bung Hatta Anti-Corruption Award sekaligus Wakil Ketua KPK periode 2003–2007; Prof. Dr. Sitti Hilyana, M.Si., Guru Besar Universitas Mataram sekaligus Wakil Rektor Universitas Mataram; serta Suster Fransiska Imakulata SSpS, Ketua Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F) NTT.
Pada hari ketiga, peserta memperluas perspektif mengenai kepemimpinan, negara hukum, dan tata kelola publik bersama Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M.
Rangkaian pembelajaran kemudian diarahkan pada penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Tahap ini menjadi penting karena program tidak ingin berhenti pada pemahaman atau inspirasi.
Peserta didorong menerjemahkan hasil pembelajaran menjadi gagasan, komitmen, dan langkah konkret yang dapat dilakukan setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
Direktur Eksekutif BHACA, MB. Gamulya, mengatakan BHYLP merupakan sebuah proses investasi jangka panjang dalam kepemimpinan orang muda.
Bagi BHACA, kepemimpinan perlu dibangun melalui kemampuan menghubungkan nilai dengan pengetahuan, pengetahuan dengan tindakan, dan tindakan dengan perubahan sosial.
BHYLP bercita-cita membangun generasi yang tidak hanya memiliki kapasitas untuk memimpin, tetapi juga memiliki kompas etis dalam menggunakan kapasitas tersebut.
Oleh karena itu, peserta tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di dalam organisasi atau institusi. Mereka diharapkan mampu memimpin dari berbagai ruang, mulai dari komunitas, desa, pendidikan, media, masyarakat sipil, dunia usaha, pemerintahan, hingga ruang digital.
Pada akhirnya, cita-cita BHYLP adalah membangun rantai perubahan: nilai membentuk karakter, karakter mengarahkan pengetahuan, pengetahuan mendorong tindakan, dan tindakan menciptakan dampak.
Dua puluh peserta dari NTB dan NTT dengan latar belakang yang beragam diharapkan menjadi bagian dari jejaring kepemimpinan muda yang terus berkembang.
Daftar Peserta Terpilih BHYLP NTB dan NTT 2026
NTB:
1. Abdurrasyid Zam Zam — ASN Satpol PP, Kabupaten Lombok Timur.
2. Almuhajirin — Dosen, Komunitas Masyarakat Adat Tarlawi, Kabupaten Bima.
3. Arief Syahrul Tiro — Guru Sejarah SMK, Kota Mataram.
4. Herniati — Tenaga Pendidik, Ketua Taman Baca Masyarakat Semeton Bace, Kabupaten Sumbawa.
5. Isna Apriawati — Mahasiswi Universitas Teknologi Sumbawa, Kabupaten Sumbawa.
6. Rian Hakiki — Komunitas Literasi NTB, Kota Mataram.
7. Saparudin Efendi — Dosen Universitas Bumigora, Advokat dan Relawan Isu Perlindungan Anak, Kota Mataram.
8. Siti Zulfa Husna — Trainer, BerdayaBareng, Kota Mataram.
9. Wardah Bagis — Aktivis Disabilitas, ASEAN Youth Disabilities Network & Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, Kota Mataram.
10. Zuyyina Addina — Mahasiswi, Mantan Ketua Dewan Anak Mataram, Kota Mataram.
NTT:
1. Adriani Miming — Periset dan Advokasi Sunspirit for Justice and Peace, Kabupaten Manggarai Barat.
2. Fransisca Hendrica Karuniawati — Penyidik Pembantu PPA Polres Timor Tengah Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara.
3. Fransiska Paskalia Tena Kopong — Ketua Komunitas Teras Sendal Jepit, Karyawan Swasta, Kota Kupang.
4. Ilta Tafuli — Koordinator Tenggara Youth Community, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
5. Mario D. E. Kali — Guru PPPK, Pondok Baca Sewowoto, Kabupaten Ngada.
6. Muh Farhan — Dosen dan Peneliti Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana, Kota Kupang.
7. Nemesio Karmila Mintang Ilanjong — Jurnalis, Pondok Baca Anak Nilas Sambikoe, Koalisi Orang Muda untuk Perubahan Iklim, Kabupaten Manggarai Timur.
8. Patricia Yuningsih Ekaswati — Kelompok Wanita Tani & Karyawan Swasta, Kabupaten Nagekeo.
9. Teofilus Afres — Jurnalis Floresa.co, Kabupaten Manggarai Timur.
10. Yulia Kristina Aron — Jurnalis Independen & Kelompok Tenun, Kabupaten Sikka.
Tentang BHACA
Perkumpulan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) merupakan organisasi non-pemerintah independen yang berkomitmen mendorong terciptanya pemerintahan dan masyarakat yang bersih dan berintegritas.
BHACA mendorong partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan korupsi, membangun kesadaran kritis mengenai pentingnya integritas dan nilai-nilai etis kemanusiaan, serta mendorong perubahan perilaku sosial melalui pendidikan, pelatihan, kampanye publik, dan advokasi.
BHACA didirikan pada 9 April 2003 oleh 15 tokoh yang memiliki kepedulian dan komitmen terhadap terwujudnya masyarakat Indonesia yang bersih dan berintegritas.
Nama Bung Hatta dipilih karena keteladanannya dalam menjunjung kejujuran, integritas, tanggung jawab, serta sikap menolak penyalahgunaan kekuasaan.
Tentang Transform NTB
TRANSFORM merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang didirikan pada 2004 dan berfokus pada peningkatan kapasitas, penelitian, pengelolaan sumber daya alam, advokasi kebijakan, serta manajemen pengetahuan.
TRANSFORM didukung oleh staf dan tenaga paruh waktu dengan kapasitas dan keahlian dalam berbagai bidang, antara lain pemberdayaan masyarakat, fasilitasi pelatihan, desain metodologi, pendekatan partisipatif, livelihood, pembangunan berkelanjutan, konservasi, mitigasi bencana, adaptasi iklim, analisis kebijakan, pengembangan media, policy brief, advokasi, Monitoring, Evaluation and Learning (MEL), serta Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI). ** (HB)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Presiden Prabowo Tiba di Nagekeo, Tinjau Penanganan Gempa Flores
HUT RI Ke-81, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur
3 Menteri dan Pimpinan Komisi IV DPR RI Tinjau K-SIGN, Rote Diproyeksikan jadi Sentra Garam Nasional
Delvis Rettob Terpilih sebagai Ketua Presidium PP PMKRI Periode 2026–2028
LMND Soroti Tantangan Serakahnomics dalam Peringatan Harlah ke-27
LMND Perkuat Kaderisasi Nasional Melalui PTL II dan Sekolah Pelopor
LMND Bantah Ikut Parade Batalyon Gabungan pada Peringatan Hari Bhayangkara ke-80
BPJS Kesehatan Perkuat Tata Kelola dan Ketahanan Pembiayaan Program JKN
Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Pertamina Pastikan Pasokan Tetap Aman
Kunjungi Amfoang, Wapres Gibran Janji Koordinasikan Perbaikan Jembatan Rusak