Aksi di DPRD NTT, ini Tuntutan Koalisi Tenaga Medis dan Nakes NTT Bersatu
Kupang- Ratusan tenaga medis dan tenaga kesehatan yang tergabung dalam Koalisi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan NTT Bersatu menggelar aksi damai dan bakar lilin di depan Kantor DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kota Kupang, Kamis (9/7/2026).
Aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas atas meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha, yang meninggal dunia setelah diduga mengalami intimidasi dari tiga oknum anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum. Mereka juga menyerahkan pernyataan sikap yang diterima oleh sejumlah anggota DPRD Provinsi NTT.
Koalisi terlebih dahulu menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga almarhumah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni.
"Kami mengucapkan duka cita yang mendalam kepada keluarga atas berpulangnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan," demikian isi pernyataan sikap koalisi.
Selain menyampaikan belasungkawa, Koalisi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan NTT Bersatu juga menyatakan beberapa sikap.
Pertama, mereka menyatakan siap mengawal serta mendorong aparat penegak hukum agar proses hukum dalam kasus tersebut dilakukan secara profesional, transparan, dan tanpa tekanan dari pihak mana pun.
Kedua, mereka mengecam segala bentuk intimidasi terhadap tenaga medis dan tenaga kesehatan saat menjalankan profesinya.
Koalisi menegaskan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan fisik, pelecehan verbal, maupun intimidasi psikis yang dialami tenaga medis dan tenaga kesehatan ketika sedang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Selain itu, mereka juga mendesak adanya penguatan sistem perlindungan serta kesehatan mental bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan.
Kepada Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh rumah sakit di wilayah NTT, koalisi menuntut agar segera memperkuat sistem perlindungan keselamatan kerja bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan.
Mereka juga meminta dibentuk gugus tugas respons cepat apabila terjadi ancaman dalam bentuk apa pun saat tenaga kesehatan menjalankan profesinya.
Tak hanya itu, pemerintah daerah juga diminta menyediakan akses layanan kesehatan jiwa bagi seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagai langkah konkret dalam memberikan perlindungan kepada para tenaga kesehatan di daerah.
Sementara kepada Pemerintah Pusat, Koalisi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan NTT Bersatu meminta agar segera diterbitkan regulasi yang mengatur perlindungan hukum, keamanan, dan keselamatan bagi tenaga medis serta tenaga kesehatan di Indonesia.
Aspirasi para peserta aksi diterima oleh sejumlah anggota DPRD Provinsi NTT, yakni Ana Waha Koli dari Fraksi PKB, Adoe Yuliana Elisabeth dari Fraksi PDI Perjuangan, Agus Nahak dari Fraksi Partai Golkar, Kasmir Kolo dari Fraksi NasDem, serta Jimur Siena Katrina dari Fraksi PAN.
Menanggapi aspirasi tersebut, anggota DPRD NTT dari Fraksi PKB, Ana Waha Kolin menyatakan dukungannya terhadap tuntutan yang disampaikan para tenaga medis.
"Saya sangat sepakat dengan seruan-seruan tadi. Ketika seorang dokter bekerja sangat total, harus ada ruang yang nyaman, ruang yang soft, bukan ruang intimidasi," ujar Ana Waha Kolin.
Ia mengatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan duka bersama dan memastikan aspirasi Koalisi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan NTT Bersatu akan diteruskan kepada pimpinan DPRD Provinsi NTT untuk ditindaklanjuti.
"Ini duka kita semua, dan kami pastikan aspirasi dari koalisi tenaga medis dan nakes akan kami antar ke pimpinan DPRD untuk ditindaklanjuti," katanya.
Ana Waha Kolin juga mengungkapkan bahwa Fraksi PKB DPRD NTT telah menyatakan sikap terkait persoalan tersebut.
"Kita tunggu saja karena negara ini adalah negara hukum. Yang pasti kami akan terus mem-follow up," tambahnya.
Usai menyerahkan aspirasi kepada DPRD Provinsi NTT, Koalisi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan NTT Bersatu melanjutkan aksi dengan menyalakan dan membakar lilin di sepanjang trotoar depan Kantor DPRD Provinsi NTT.
Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada almarhumah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni sekaligus simbol solidaritas terhadap seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan. ** (EB)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
"Saya juga setuju jikalau ada perlindungan untuk tenaga medis maka para tenaga medis tidak akan ragu- ragu lagi untuk menjankan tugasnya karena sudah ada perlindungan yang baik dari pemerintah"
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
FMN Desak Presiden Prabowo Tetapkan Gempa Flores sebagai Bencana Nasional
Gempa Guncang Flores, Kakanwil Ditjenpas NTT Siapkan Relokasi 171 WBP Rutan Ruteng ke Bajawa
Gempa M 7,7 Guncang Flores, Gubernur NTT Koordinasi dengan Kepala BNPB hingga Sejumlah Menteri
Tim Kuasa Hukum 3 Anggota DPRD TTU Hadirkan Ahli Psikologi Forensik di Polda NTT
Soal Rp330 Juta, Ishak Rihi Minta Damai, Kuasa Hukum Bildad Pilih Proses Hukum
Desa Waiburak dan Narasaosina Berdamai, Ritual Adat Lepan Dopi Ledan Gala Digelar
KKJ NTT dan AJI Kupang Minta Pemberitaan Kasus Bildad Thonak Berbasis Verifikasi
Penyidikan Kasus Dokter Icha, Terlapor akan Diperiksa Lagi Setelah Hasil Gelar Perkara
Kasus Dokter Icha, Ahli Toksinologi Jawab Lebih dari 30 Pertanyaan Penyidik Polda NTT
Besok, Polda NTT Minta Keterangan Dokter Tri Maharani sebagai Saksi Ahli dalam Kasus Dokter Icha Pakaenoni