BP3MI NTT Bekali 63 CPMI dengan Penguatan Mental dan Pemahaman Hak Pekerja Migran
Kupang– Sebanyak 63 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti kegiatan Orientasi Pra-Pemberangkatan (OPP) yang diselenggarakan oleh Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI - NTT) di Aula BP3MI NTT, Kota Kupang, Kamis, 4 Juni 2026.
Kegiatan berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 16.30 WITA sebagai pembekalan akhir sebelum para CPMI diberangkatkan ke negara tujuan penempatan.
Ketua Tim OPP BP3MI NTT, Yulia Wati Wahyudi, mengatakan para peserta berasal dari 23 Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) dan telah dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan untuk bekerja di luar negeri.
"Hari ini, ada kegiatan OPP. Sebanyak 63 orang dari 23 PT, P3MI. Jadi, per PT mengirimkan yang sudah lolos verifikasi untuk dikirimkan ke luar negeri untuk Malaysia dan Singapura," kata Yulia kepada wartawan di Kantor BP3MI NTT, Kamis (4/6).
Ia menyebutkan, dari total 63 CPMI tersebut, sebanyak 61 orang akan ditempatkan di Malaysia dan dua orang di Singapura. Dari jumlah tersebut, 44 orang merupakan perempuan dan 19 orang laki-laki.
Ia menjelaskan bahwa tujuan utama orientasi pra-pemberangkatan adalah memberikan pembekalan terakhir kepada CPMI agar memahami hak dan kewajiban mereka sebagai pekerja migran, mengetahui cara beradaptasi di negara tujuan, serta memperkuat motivasi sebelum berangkat.
"Maksud dan tujuan orientasi adalah memberikan pembekalan akhir untuk mengingatkan agar mereka tahu tentang hak dan kewajiban, juga bagaimana cara mereka beradaptasi di negara tujuan penempatan, memperkuat motivasi," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, para CPMI dibekali berbagai materi yang terdiri dari dua materi inti dan tiga materi penunjang. Materi inti meliputi pemahaman perjanjian kerja, hak dan kewajiban pekerja migran, serta peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan pekerja migran Indonesia.
"Untuk materi OPP itu ada dua materi inti dan tiga materi penunjang. Materi inti tentang perjanjian kerja di mana mengajarkan tentang hak dan kewajiban, perundang-undangan tentang bagaimana supaya mereka tahu menghadapi permasalahan di mana KBRI, KJRI," ujar Yulia.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai budaya negara tujuan penempatan agar mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja dan kehidupan sosial yang berbeda.
Mereka juga menerima materi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, pencegahan HIV/AIDS, serta pentingnya menerapkan pola hidup sehat selama bekerja di luar negeri.
"Kita ingin agar para pekerja migran tidak terjerat dalam hal-hal negatif. Kami berkolaborasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS untuk memberikan pembekalan masalah AIDS," tuturnya.
Yulia menegaskan bahwa penguatan mental menjadi salah satu fokus utama dalam orientasi tersebut. Sebab, bekerja di luar negeri bukanlah hal yang mudah karena para pekerja akan menghadapi tekanan pekerjaan, perbedaan budaya, serta berbagai tantangan kehidupan di negara orang.
Mereka dibekali materi tentang pentingnya mental yang kuat karena di tanah rantau akan menghadapi tekanan pekerjaan dan budaya yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran, ketangguhan, serta kemampuan beradaptasi yang baik.
Dia kembali menekankan pentingnya memupuk mental, kepribadian, dan motivasi para calon pekerja migran. Sebab, bekerja di luar negeri membutuhkan kesiapan fisik maupun mental yang matang.
Dalam kesempatan tersebut, sejumlah CPMI mengungkapkan alasan mereka memilih bekerja di luar negeri. Sebagian besar berharap dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, mengubah nasib, serta memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. ** (EB)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi