Kasus DBD di Ruteng Turun Drastis pada 2026, Puskesmas Gencarkan Edukasi dan Inovasi Pencegahan
Ruteng, Highlight NTT- Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai, khususnya yang berada di bawah pengawasan Puskesmas Lao dan Puskesmas Kota Ruteng, mencatatkan tren penurunan yang sangat signifikan sepanjang tahun 2026.
Keberhasilan menekan angka penyebaran ini tidak terlepas dari langkah preventif yang sistematis, penyelidikan epidemiologi yang ketat, serta inovasi penyuluhan proaktif di tengah masyarakat.
Berdasarkan data Puskesmas Lao yang membawahi delapan kelurahan, lonjakan kasus tertinggi sempat terjadi pada tahun 2024.
Namun, berkat penanganan yang responsif, grafik penderita terus menunjukkan penurunan hingga menjelang akhir tahun ini.
Setiap kali menerima laporan kasus dari rumah sakit melalui Dinas Kesehatan, petugas puskesmas segera turun ke lapangan untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE).
Langkah tersebut mencakup pemeriksaan kondisi rumah pasien, pemantauan lingkungan sekitar, serta pelacakan keberadaan jentik nyamuk secara menyeluruh.
Pengelola Bidang DBD Puskesmas Lao, Novi Selan, mengonfirmasi bahwa penyusutan angka kasus ini terjadi sangat drastis jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya.
"Tahun yang lebih banyak itu 2024 sekitar 40-an atau 50-an kasus. Tapi 2025 semakin berkurang kasusnya, masuk di 2026 ini hanya 4 kasus dari Januari sampai saat ini," ujar Novi, Senin, 2 November 2026.
Lebih lanjut, Novi memberikan edukasi terkait prosedur pengasapan atau fogging yang sering kali langsung dituntut oleh warga begitu ada kasus baru yang muncul.
Ia menegaskan bahwa puskesmas terikat pada prosedur operasional standar guna mencegah dampak buruk bagi saluran pernapasan warga maupun kelangsungan hidup hewan peliharaan.
"Fogging ini tidak bisa kita bilang langsung fogging, bertahap dia. Kalau dilihat jentiknya ada, dilihat kasusnya banyak, itu baru kami melakukan fogging," tegas Novi memaparkan aturan penanganan.
Kondisi positif yang serupa juga tampak nyata di wilayah kerja Puskesmas Kota Ruteng. Angka penderita penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut berhasil ditekan ke titik yang paling minim.
Dari segelintir kasus yang tercatat tahun ini, sebagian besar justru merupakan kasus impor, di mana pasien ditengarai terjangkit saat sedang berada di luar daerah penyebaran lokal.
Penanggung Jawab (Pj.) DBD Puskesmas Kota Ruteng, Rini Tagur, memaparkan secara rinci rekam jejak penyusutan kasus di wilayah kerjanya yang patut diapresiasi.
"Dari tahun 2024 untuk wilayah kerja Puskesmas Kota ada 90 kasus. Terus untuk tahun 2025 menurun jadi 34 kasus, dan tahun 2026 ini dari Januari sampai Oktober kasusnya ada tiga," ungkap Rini, Rabu, 3 November 2026.
Demi menjaga agar grafik tidak kembali merangkak naik, Puskesmas Kota Ruteng tidak hanya berpangku tangan pada program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 'Sabtu Bersih' di tiap kelurahan.
Edukasi penerapan 3M Plus—yakni menguras, menutup, mendaur ulang, serta menggunakan kelambu atau losion antinyamuk—makin diintensifkan melalui para petugas promosi kesehatan di berbagai posyandu.
Sebagai langkah antisipasi yang terukur, Kepala Puskesmas Kota Ruteng, drg. Margaretha Irmana Baung, menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan pendekatan berbasis rekam data tahunan.
Cara ini memungkinkan puskesmas untuk memprediksi siklus lonjakan kasus sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum musim rawan tiba.
"Dari Puskesmas Kota itu juga ada program, kami sedang merangkum dalam satu inovasi namanya Sirkel Emas, Siaran Keliling Edukasi Masyarakat," jelas drg. Margaretha terkait terobosan fasilitas kesehatannya, Rabu.
"Kita melihat dari data grafik tahun sebelumnya, dia tingginya di bulan apa, maka bulan sebelumnya itu kami sudah melakukan edukasi masyarakat dengan keliling," pungkas dia.
Mengingat saat ini merupakan masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan yang berisiko menciptakan genangan-genangan air baru, pihak puskesmas terus mengimbau warga agar tidak lengah menjaga kebersihan lingkungan.
Kerja sama lintas sektor yang melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah kelurahan, dan kesadaran penuh dari setiap individu masyarakat menjadi fondasi utama agar wilayah Ruteng benar-benar terbebas dari ancaman DBD. **(Hafiz/HighlightNTT)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
PMI Asal TTS yang Bekerja Setahun di Malaysia, Dipulangkan dalam Peti Jenazah
Bekerja 20 Tahun di Malaysia, Charles Siga Pulang ke Nagekeo dalam Peti Jenazah
Dijanjikan Kerja di Kebun Sawit, PMI Asal Malaka Dideportasi Setelah 3 Bulan Dipenjara
Dua PMI Nonprosedural Asal Belu dan Nagekeo Meninggal di Malaysia, BP3MI NTT Fasilitasi Pemulangan Jenazah
Kapolresta Kupang Kota: Tertib Berlalu Lintas Bukan karena Takut Ditilang
Peletakan Batu Pertama GBI Kasih Anugerah, Pemkot Kupang: Mulai dengan Yakin, Selesaikan Bersama
PMI Asal Adonara Meninggal akibat Pneumonia di Malaysia, Jenazah Tiba di Kupang
GMNI Kritik Rencana Bupati TTS Laporkan Media dan Pengguna Media Sosial
BP3MI NTT Tangani 123 Jenazah PMI hingga Oktober 2026, Terbaru dari Solor Selatan
Ribuan KPM PKH di Manggarai Terindikasi Judi Online, Kemensos Ambil Langkah Penonaktifan dan Penguatan Edukasi