Kasus DBD di Ruteng Turun Drastis pada 2026, Puskesmas Gencarkan Edukasi dan Inovasi Pencegahan

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 62x
Waktu Baca ± 3 Min
Bagikan Artikel
Kasus DBD di Ruteng Turun Drastis pada 2026, Puskesmas Gencarkan Edukasi dan Inovasi Pencegahan
Ilustrasi waspada DBD Kredit: Dok. Hafiz/HighlightNTT

Ruteng, Highlight NTT- Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai, khususnya yang berada di bawah pengawasan Puskesmas Lao dan Puskesmas Kota Ruteng, mencatatkan tren penurunan yang sangat signifikan sepanjang tahun 2026.

Keberhasilan menekan angka penyebaran ini tidak terlepas dari langkah preventif yang sistematis, penyelidikan epidemiologi yang ketat, serta inovasi penyuluhan proaktif di tengah masyarakat.

Berdasarkan data Puskesmas Lao yang membawahi delapan kelurahan, lonjakan kasus tertinggi sempat terjadi pada tahun 2024.

Namun, berkat penanganan yang responsif, grafik penderita terus menunjukkan penurunan hingga menjelang akhir tahun ini.

Setiap kali menerima laporan kasus dari rumah sakit melalui Dinas Kesehatan, petugas puskesmas segera turun ke lapangan untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE).

Langkah tersebut mencakup pemeriksaan kondisi rumah pasien, pemantauan lingkungan sekitar, serta pelacakan keberadaan jentik nyamuk secara menyeluruh.

Pengelola Bidang DBD Puskesmas Lao, Novi Selan, mengonfirmasi bahwa penyusutan angka kasus ini terjadi sangat drastis jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya.

"Tahun yang lebih banyak itu 2024 sekitar 40-an atau 50-an kasus. Tapi 2025 semakin berkurang kasusnya, masuk di 2026 ini hanya 4 kasus dari Januari sampai saat ini," ujar Novi, Senin, 2 November 2026.

Lebih lanjut, Novi memberikan edukasi terkait prosedur pengasapan atau fogging yang sering kali langsung dituntut oleh warga begitu ada kasus baru yang muncul.

Ia menegaskan bahwa puskesmas terikat pada prosedur operasional standar guna mencegah dampak buruk bagi saluran pernapasan warga maupun kelangsungan hidup hewan peliharaan.

"Fogging ini tidak bisa kita bilang langsung fogging, bertahap dia. Kalau dilihat jentiknya ada, dilihat kasusnya banyak, itu baru kami melakukan fogging," tegas Novi memaparkan aturan penanganan.

Kondisi positif yang serupa juga tampak nyata di wilayah kerja Puskesmas Kota Ruteng. Angka penderita penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut berhasil ditekan ke titik yang paling minim.

Dari segelintir kasus yang tercatat tahun ini, sebagian besar justru merupakan kasus impor, di mana pasien ditengarai terjangkit saat sedang berada di luar daerah penyebaran lokal.

Penanggung Jawab (Pj.) DBD Puskesmas Kota Ruteng, Rini Tagur, memaparkan secara rinci rekam jejak penyusutan kasus di wilayah kerjanya yang patut diapresiasi.

"Dari tahun 2024 untuk wilayah kerja Puskesmas Kota ada 90 kasus. Terus untuk tahun 2025 menurun jadi 34 kasus, dan tahun 2026 ini dari Januari sampai Oktober kasusnya ada tiga," ungkap Rini, Rabu, 3 November 2026.

Demi menjaga agar grafik tidak kembali merangkak naik, Puskesmas Kota Ruteng tidak hanya berpangku tangan pada program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 'Sabtu Bersih' di tiap kelurahan.

Edukasi penerapan 3M Plus—yakni menguras, menutup, mendaur ulang, serta menggunakan kelambu atau losion antinyamuk—makin diintensifkan melalui para petugas promosi kesehatan di berbagai posyandu.

Sebagai langkah antisipasi yang terukur, Kepala Puskesmas Kota Ruteng, drg. Margaretha Irmana Baung, menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan pendekatan berbasis rekam data tahunan.

Cara ini memungkinkan puskesmas untuk memprediksi siklus lonjakan kasus sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum musim rawan tiba.

"Dari Puskesmas Kota itu juga ada program, kami sedang merangkum dalam satu inovasi namanya Sirkel Emas, Siaran Keliling Edukasi Masyarakat," jelas drg. Margaretha terkait terobosan fasilitas kesehatannya, Rabu.

"Kita melihat dari data grafik tahun sebelumnya, dia tingginya di bulan apa, maka bulan sebelumnya itu kami sudah melakukan edukasi masyarakat dengan keliling," pungkas dia.

Mengingat saat ini merupakan masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan yang berisiko menciptakan genangan-genangan air baru, pihak puskesmas terus mengimbau warga agar tidak lengah menjaga kebersihan lingkungan.

Kerja sama lintas sektor yang melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah kelurahan, dan kesadaran penuh dari setiap individu masyarakat menjadi fondasi utama agar wilayah Ruteng benar-benar terbebas dari ancaman DBD. **(Hafiz/HighlightNTT)

Reaksi Pembaca:

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan