Kelangkaan dan Kenaikan Harga LPG Non-Subsidi di NTT Picu Keluhan Masyarakat
Kupang, Pengamat ekonomi dari Universitas Nusa Cendana, Ricky Ekaputra Foeh, menjelaskan bahwa secara data, distribusi LPG nonsubsidi oleh PT Pertamina (Persero) ke wilayah NTT tetap berjalan dengan alokasi yang telah ditetapkan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masyarakat masih kesulitan memperoleh LPG. Hal ini mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara data distribusi dan kondisi nyata di tingkat konsumen.
Menurutnya, kelangkaan ini dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya kuota LPG yang belum mampu memenuhi kebutuhan riil masyarakat serta adanya dugaan kebocoran distribusi. LPG nonsubsidi disebut-sebut tidak sepenuhnya digunakan oleh pihak yang berhak, ditambah lemahnya pengawasan di lapangan yang memperparah situasi. Akibatnya, pasokan menjadi tidak merata dan membuka peluang terjadinya permainan stok maupun harga.
Ricky juga menyarankan sejumlah langkah strategis untuk mengatasi persoalan tersebut. Pemerintah dinilai perlu mengajukan kuota khusus bagi wilayah kepulauan seperti NTT, menerapkan subsidi berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) agar lebih tepat sasaran, serta memperluas jaringan distribusi hingga ke tingkat desa dengan menambah pangkalan resmi. Pengawasan distribusi juga harus diperketat, disertai upaya pengembangan energi alternatif guna mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG.
Keluhan Warga
Di sisi lain, masyarakat merasakan langsung dampak kenaikan harga. Salah satu warga Kelurahan Sikumana, mengungkapkan bahwa harga LPG 12 kilogram melonjak dari sekitar Rp245 ribu menjadi Rp300 ribu sejak awal April 2026. Kenaikan ini dinilai cukup memberatkan, terutama bagi rumah tangga yang sangat bergantung pada LPG untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal satu tabung LPG 12 kilogram dapat digunakan hingga sekitar dua setengah bulan. Namun, dengan harga yang meningkat, beban pengeluaran rumah tangga ikut bertambah. Meski demikian, pilihan alternatif dinilai terbatas karena LPG dianggap lebih praktis dibandingkan bahan bakar lain seperti minyak tanah.
Masyarakat pun berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan LPG di pasaran. Stabilitas distribusi dan keterjangkauan harga menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas rumah tangga tidak semakin terbebani di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.**
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Mediasi Swasti Sari Buntu, Bildad Thonak Pertanyakan Netralitas Kementerian dan Pemprov NTT
Terhambatnya Pasokan dan Kendala Teknis Picu Antrean Panjang BBM di Ruteng
ESDM NTT: Antrean BBM di Kupang Bukan karena Pengurangan Kuota
Bulog Waikabubak Siapkan Bantuan Pangan untuk 3 Kabupaten di Sumba
Antrean BBM Terjadi Setiap Pagi di Sejumlah SPBU Sumba Barat Daya
Nyaman dan Strategis, Bupati TTU Dorong Hotel Sasando jadi Pilihan Menginap ASN di Kupang
Dinas Peternakan NTT Kendalikan Pengeluaran Ternak Melalui Kuota
Undana Dorong Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas di Perbatasan Indonesia - Timor Leste
Bedi Roma: Polemik KSP Swasti Sari Jangan Korbankan Pegawai
Bedah #RESET INDONESIA di Kupang, Dandhy Laksono: Setelah 81 Tahun Kemerdekaan, Kesenjangan Ekonomi Masih Ada