Kesaksian Suster Marisa da Costa saat Kebakaran Panti Asuhan Guardian Holy Angel

Emanuel Boli
Dilihat 142x
Waktu Baca ± 4 Min
Bagikan Artikel
Kesaksian Suster Marisa da Costa saat Kebakaran Panti Asuhan Guardian Holy Angel
Penanggung jawab Panti Asuhan Guardian Holy Angel, Sr. Marisa da Costa, CJD (kiri) Kredit: Dok. HighlightNTT/EB

Kupang- Kebakaran melanda Panti Asuhan Guardian Holy Angel di RT009/RW004, Naikoten I, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, NTT, Rabu, 13 Mei 2026 sekitar pukul 14.30 WITA.

Dalam peristiwa tersebut, seluruh anak panti dan para suster selamat, meskipun hampir seluruh barang dan dokumen penting hangus terbakar.

Penanggung jawab panti, Sr. Marisa da Costa, CJD, menceritakan detik-detik terjadinya kebakaran saat dirinya sedang bersama beberapa anak panti.

“Tadi saya ambil bayi, lalu saya duduk di luar ruang tamu bersama lima anak. Tidak lama kemudian saya dengar seperti bunyi dan seperti ada yang terbakar,” kata Sr. Marisa kepada wartawan.

Karena curiga, ia kemudian masuk ke salah satu kamar kosong dan melihat api sudah menyala di bagian dinding dekat kasur.

“Saya lihat api sudah menyala di dekat dinding, tepat di celah dekat jalan raya. Saya langsung berteriak kepada anak laki-laki untuk ambil air,” katanya.

“Saya berteriak, tetapi api sudah menyala besar. Semua bagian dalam rumah tertutup asap dan gelap,” ujar Sr. da Costa.

Saat kejadian, hanya ada dua suster yang berada di panti bersama 19 anak asuh. Dua suster lainnya sedang berada di luar daer

“Anak-anak 19 orang, 4 suster. Tapi, 2 suster pergi ke Makassar tinggal kami dua. Kami 2 suster, satu lagi urus surat di Dispenduk. Saya sendiri, makanya saya tidak tidur. Kalau saya tidur, saya tidak tahu lagi," tuturnya.

Meski dilanda kepanikan, Sr. Marisa da Costa memastikan seluruh anak berhasil diselamatkan tanpa korban jiwa maupun luka-luka.

“Tidak ada anak-anak yang menjadi korban. Semua selamat. Saya terus mencari dan memastikan semua anak ada,” katanya.

Anak-anak panti terdiri dari 10 laki-laki dan 9 perempuan, termasuk beberapa balita dan bayi berusia lima bulan.

“Ada anak usia enam tahun, lima tahun, tiga tahun, dua tahun, dan yang paling kecil bayi usia lima bulan,” tutur Sr. Marisa.

Akibat kebakaran tersebut, seluruh dokumen penting milik panti ikut terbakar, termasuk surat tanah, dokumen pendidikan anak-anak, serta perlengkapan elektronik.

“Semua surat habis terbakar, mulai dari surat tanah sampai dokumen sekolah anak-anak dari SD hingga perguruan tinggi. Laptop juga habis semua,” ungkapnya.

Selain dokumen, berbagai perlengkapan panti seperti lemari, pakaian, dan peralatan sehari-hari juga tidak tersisa.

“Semua barang habis. Kami hanya tersisa baju di badan. Saya sendiri hanya sisa satu baju,” katanya dengan nada sedih.

Pasca kebakaran, pihak panti bersyukur karena mendapat bantuan tempat tinggal dari Gabriel Lema.

"Tapi puji Tuhan Jenderal Lema dan ibu Alin memberikan satu rumah mereka untuk kami anak panti. Beliau masih rehab, tapi rehab ini sudah semua tinggal belakang," ujarnya.

"Tiba-tiba kejadian, beliau telpon ke ajudannya bahwa Komjen.Nanti kami suruh segera ke tempat itu. Walaupun kami kosong, tidak apa-apa, yang penting kami sama-sama."

Saat ini, pihak panti juga sedang membangun lokasi panti baru di Naikolan, namun pembangunannya belum selesai saat musibah terjadi.

Hingga kini, penyebab kebakaran masih belum diketahui secara pasti. Sr. Marisa mengaku pertama kali melihat api sudah menyala di dekat kasur dan dinding kamar kosong tersebut.

“Saya tidak tahu sumber apinya dari mana. Saya hanya lihat api sudah menyala dekat kasur dan dinding,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, diduga akibat korsleting listrik, Panti Asuhan Guardian Holy Angel di RT Kelurahan Naikoten I, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), ludes terbakar pada Rabu (13/5/2026) sekitar pukul 14.30 WITA.

Panti asuhan tersebut diketahui milik para suster dari ordo Canonici Regulares a Jesu Domino (CJD) atau Ordo Suster Kanonik Regular dari Yesus Tuhan.

Berdasarkan keterangan warga sekitar, sumber api diduga berasal dari meteran listrik di bagian depan.

Api kemudian dengan cepat merambat ke dalam melalui plafon rumah yang mudah terbakar.

Warga Naikoten I, Yustus Lamaleta, mengatakan percikan api pertama kali terlihat berasal dari kabel listrik di sekitar meteran.

"Dia punya kabel, percikan api di kabel. Percikan api di kabel, dia naik sampai di kamar depan itu. Mungkin ada spon. Di situ diapunya plafon tabakar," katanya.

Pantauan di lokasi, dua mobil pemadam kebakaran (damkar) Kota Kupang dan satu truk tangki diterjunkan untuk memadamkan api.

Kapolsek Kota Raja, AKP Frids Mada, bersama anggot juga tampak berada di lokasi untuk membantu proses penanganan dan pengamanan. ** (EB)

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan