Minyak Tanah Langka, Warga Oesapa Masak Pakai Sisa Bangkai Kapal
Kupang- Kelangkaan minyak tanah di Kota Kupang, NTT membuat warga harus mencari berbagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
Di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, warga terpaksa menggunakan kayu bakar dari sisa bahan bangunan hingga bangkai kapal motor yang sudah rusak.
“Minyak katong cari ju setengah mati. (Masak pakai kayu api) nasi, sayur, air panas, ju rau. Mo karmana lai, sudah zaman dulu sudah,” kata Erni Finit (53) saat ditemui di RT 033/RW011, Kelurahan Oesapa, Selasa, 23 Juni 2026 sekitar pukul 12.06 WITA.
Ia menuturkan, di tengah kesulitan mencari uang, ia bahkan terpaksa membeli kayu bakar demi memenuhi kebutuhan masak sehari-hari.
Namun belakangan ini, ia memanfaatkan sisa kayu bahan bangunan dan kayu dari bangkai kapal yang sudah tidak digunakan di Pantai Oesapa.
“Kapal perahu dong punya yang rusak, Pa De (Ketua RT 32) yang suruh katong bongkar untuk pake masak. Mau beli (kayu api) ju uang setengah mati,” ujarnya.
Ia mengatakan, kelangkaan minyak tanah telah dirasakan selama sekitar dua bulan. Warga harus mengantre dalam waktu lama di agen penjualan, namun tidak selalu mendapatkan jatah minyak tanah.
“Su dua bulan. Katong pi antre. Antre kadang sonde dapat, kadang dapat. Baku rampas ko rakyat begini banyak. Kadang stoknya ada atau kadang tidak ada,” katanya.
Ibu rumah tangga dengan sembilan anggota keluarga dalam satu rumah itu mengatakan antrean di agen minyak tanah kerap berlangsung lebih dari satu jam.
“Katong antre satu jam lebih, baku rampas pake basusun jerigen dong di agen. Jerigen taro di tali baru isi. Satu jerigen lima liter, kadang sonde dapat ju,” tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan Ketua RT 032 Kelurahan Oesapa, Muhammad Mansur Dokeng (45), yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan.
Pria yang akrab disapa Pak De itu mengaku kembali menggunakan kompor minyak tanah setelah harga gas elpiji mengalami kenaikan.
Ia berkata, harga gas elpiji ukuran 5 kilogram saat ini mencapai lebih dari Rp200 ribu per tabung dan hanya cukup digunakan selama satu bulan.
Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk mempermudah akses masyarakat terhadap minyak tanah.
“Fungsi pemerintah kan mempermudah akses masyarakat. Kalau begini kan kasihan, ketong merasa seolah-olah sonde ada pemerintah,” katanya.
Meski warga mulai kembali menggunakan kayu bakar akibat kelangkaan minyak tanah, ia memastikan masyarakat di sekitar Oesapa tidak menebang atau memanfaatkan kayu bakau sebagai bahan bakar.
"Warga lebih banyak menggunakan kayu dari bangkai kapal yang sudah rusak," katanya.
Hingga berita ini ditayangkan, Wali Kota Kupang, Christian Widodo, maupun dinas terkait belum berhasil dihubungi untuk dimintai penjelasan mengenai penyebab dan penanganan kelangkaan minyak tanah yang dikeluhkan warga. ** (EB)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Pemda dan DPRD Lembata Bersama IKL Kupang Melayat ke Rumah Duka Alm. Drs. Sinun Petrus Manuk
134 KK Korban Gempa Asal Marapokot, Nagekeo Bertahan dalam Satu Tenda, Kekurangan Air Bersih dan Makanan
Aliansi Indonesia Bangkit NTT Galang Dana untuk Korban Gempa Flores
BRI Peduli Hadir untuk Warga Terdampak Gempa Nagekeo dan Ngada
BP3MI NTT Tangani Pemulangan Jenazah PMI ke-99 Asal Sikumana, 14 Tahun Bekerja di Malaysia
Jenazah Petrus Sinun Manuk Tiba di Kupang, Disambut Keluarga, Kwarcab, dan Kwarda NTT
BRI Peduli Jangkau Pengungsi dan Pasien Terdampak Gempa di Maumere
Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Bheramari, Ende, Mahasiswa KKN Unmuh Soroti Jarak dan Biaya Layanan
Lindungi PMI dari Sindikat Narkoba, BP3MI dan BNN NTT Perkuat Sinergi
PMI Asal Kupang Dipulangkan dari Arab Saudi Setelah Berangkat Lewat Jalur Nonprosedural