64 Tahun Menjulang, 25 Tahun Mengakar: Undana dan Pascasarjana Menuju World Class, Locally Relevant University
Oleh: Dr. Hamza H. Wulakada, M.Si (Direktur Pascasarjana Universitas Nusa Cendana)
OPINI- Ada pepatah tua yang sering dilupakan oleh mereka yang tergesa mengejar kemajuan: pohon yang tinggi menjulang bukan karena ia lupa pada akarnya, melainkan justru karena akarnya menghunjam kian dalam. Universitas Nusa Cendana (UNDANA), yang tahun ini merayakan usianya yang ke-64, dan Program Pascasarjana yang genap berusia dua puluh lima tahun ‘usia perak’ yang dalam banyak tradisi dianggap sebagai penanda kematangan, tengah berdiri persis di titik itu: antara dorongan untuk menjulang ke panggung global dan keharusan untuk tetap mengakar pada tanah Flobamorata yang membesarkannya.
Sejarah panjang UNDANA tidak pernah linear. Ia adalah rangkaian babak yang masing-masing ditulis oleh tangan yang berbeda namun berpijak pada cita yang sama. Sejarawan peradaban Arnold Toynbee, dalam magnum opus-nya A Study of History (1934–1961), pernah mengingatkan bahwa setiap peradaban besar tumbuh bukan karena ketiadaan tantangan, melainkan karena kemampuannya merespons tantangan itu (teori challenge and response).
Sebelas Rektor yang silih berganti memimpin UNDANA sejak 1962 dapat dibaca sebagai sebelas babak respons atas tantangan zamannya masing-masing: dari fase perintisan yang serba terbatas, penataan kelembagaan yang berliku, hingga pengembangan yang kini mengarah pada pengakuan dunia.
Ketika Mohamad Salim meletakkan fondasi pertama UNDANA pada 1962, dan El Tari melanjutkannya dengan visi kerakyatan seorang negarawan, keduanya sedang menanam benih di tanah yang secara infrastruktur maupun sumber daya jauh dari ideal. Fase-fase berikutnya di bawah Soetan Mohamad Sjah, Urias Bait, hingga Frans Likadja adalah masa konsolidasi, periode yang oleh para ahli manajemen perubahan sering disebut sebagai tahap institution building, ketika sebuah organisasi muda berjuang menemukan bentuk dan arahnya sendiri.
Babak yang secara pribadi paling saya rasakan getarnya adalah masa kepemimpinan Prof. August Benu (1996–2005), sebab periode itu berhimpitan langsung dengan salah satu momentum paling menentukan dalam sejarah bangsa: peralihan dari Orde Baru ke Reformasi. Ilmuwan politik Samuel Huntington, dalam karyanya The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century (1991), mengingatkan bahwa transisi menuju keterbukaan tidak pernah tuntas dalam sekali hentak; ia berjalan dalam pasang-surut, penuh residu masa lalu yang harus dinegosiasikan pelan-pelan.
Begitu pula yang terjadi di UNDANA kala itu, demokrasi kampus yang lama tersumbat mulai terbentang, meski belum seutuhnya terbuka. Prof. August Benu, bersama semangat para senior UNDANA, menjadi salah satu tangan yang mengawal proses itu, sembari tetap berjibaku menata kampus yang secara fisik pun belum sepenuhnya terkonsentrasi di Jalan Adisucipto sejak kepindahannya pada 1981.
Estafet berlanjut ke Prof. Frans Umbu Datta, yang meninggalkan legasi ganda: pembangunan infrastruktur dan penataan sumber daya manusia dosen serta tenaga kependidikan. Kebijakan yang pada masanya terasa "ekstrem", mendorong, bahkan memaksa, dosen untuk studi lanjut, kini terbukti relevan dengan apa yang oleh ekonom pemenang Nobel Theodore Schultz, dalam artikelnya yang melegenda Investment in Human Capital (1961), disebut sebagai investasi human capital: bahwa pengetahuan dan keterampilan manusia adalah bentuk modal yang hasilnya baru dapat dipetik dalam jangka panjang. Apa yang dahulu dianggap biasa saja, kini disadari sebagai fondasi bagi kualitas akademik UNDANA hari ini.
Prof. Fredrik Lukas Benu kemudian hadir dengan agenda membuka keterisolasian UNDANA dari dunia luar. Ia memperkenalkan UNDANA sebagai entitas berorientasi global dengan Lahan Kering sebagai ciri khasnya, sebuah strategi yang, dalam bahasa sosiolog Roland Robertson lewat karyanya Globalization: Social Theory and Global Culture (1992), dapat disebut sebagai glokalisasi: proses menjadi global justru dengan mempertajam kekhasan lokal, bukan meleburkannya. Pembenahan sistem informasi pada masa itu juga menjadi persiapan penting UNDANA memasuki gerbang revolusi industri, sebuah langkah yang sejalan dengan peringatan pakar inovasi Clayton Christensen dalam The Innovator's Dilemma (1997) bahwa institusi yang menolak beradaptasi dengan disrupsi teknologi akan tertinggal oleh zamannya sendiri.
Kepemimpinan Prof. Maxs U. E. Sanam yang datang setelahnya membawa nuansa berbeda: lebih tenang, namun tidak kurang substansial. Ia merajut kembali kebersamaan dan mendistribusikan peran, hingga UNDANA berhasil memanen sejumlah guru besar dan doktor baru. Pendekatan ini mengingatkan pada konsep servant leadership yang dirumuskan Robert Greenleaf dalam esai klasiknya The Servant as Leader (1970), bahwa kepemimpinan yang mengutamakan pertumbuhan bersama di atas ambisi personal, sekaligus menegaskan pentingnya apa yang oleh ilmuwan politik Robert Putnam dalam Bowling Alone (2000) disebut modal sosial: jejaring kepercayaan dan kerja sama yang menjadi prasyarat kemajuan kolektif.
Kini, di bawah kepemimpinan Prof. Jefri S. Bale, UNDANA memasuki babak baru yang barangkali paling ambisius: menjadi "World Class, Locally Relevant University." Frasa ini bukan sekadar slogan, melainkan sintesis dari seluruh perjalanan sebelas rektor yang telah disebutkan. Sosiolog Ulrich Beck, dalam What is Globalization? (1997), pernah menegaskan bahwa dunia yang mengglobal justru menuntut kesadaran lokal yang lebih tajam, bukan sebaliknya. Dalam waktu kurang dari setahun, lompatan UNDANA pada berbagai indikator keterdampakan publik memperlihatkan bahwa visi ini bukan angan kosong, melainkan jiwa muda yang mulai berlari mengejar kebutuhan global tanpa kehilangan akar Flobamorata.
Jika UNDANA adalah pohon besar, Pascasarjana adalah salah satu dahan yang tumbuh paling pesat dalam satu dekade terakhir. Didirikan pada masa kepemimpinan Prof. August Benu sebagai konfirmasi otentik status UNDANA sebagai universitas seutuhnya, Pascasarjana memulai langkahnya hanya dengan dua program studi: S2 Ilmu Administrasi Publik dan S2 Manajemen Sumberdaya Alam dan Lingkungan (kini Ilmu Lingkungan). Prof. Ginting kemudian melanjutkan estafet dengan segala keterbatasan zamannya, disusul Prof. Lien Bale Therik yang memperluas cakrawala keilmuan lewat S2 Pendidikan IPS, S2 Bahasa Inggris, dan S2 Ilmu Peternakan.
Era Prof. Alo Liliweri sang pakar komunikasi yang reputasinya melampaui batas kampus, membawa Pascasarjana pada masa paling ekspansif: lahirnya S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, S2 Linguistik, dan S3 Administrasi Publik. Filsuf pendidikan Paulo Freire, dalam karya monumentalnya Pedagogy of the Oppressed (1970), pernah menulis bahwa pendidikan sejati adalah praktik pembebasan yang dibangun lewat dialog dan relasi, bukan sekadar transfer pengetahuan satu arah; kemampuan komunikasi publik yang dimiliki Prof. Alo Liliweri menjadi jembatan yang memperluas jejaring kerja sama Pascasarjana hingga jauh melampaui Kupang.
Estafet berikutnya dilanjutkan Prof. Manggadas Lumba Gaol yang memperkuat penataan internal sekaligus memastikan lulusan Pascasarjana benar-benar berkontribusi di hilir pembangunan, dan Prof. Tans Felix yang dengan gaya tenangnya menghidupkan kembali program studi yang sempat terhempas kebijakan pengalihan prodi interdisiplin ke fakultas asal.
Kini, di usia keperaknya, Pascasarjana UNDANA di bawah kepemimpinan Dr. Hamza H. Wulakada mencatat lonjakan peminatan lebih dari 300 persen dibanding tahun sebelumnya, sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam sejarah pendidikan pascasarjana di kawasan timur Indonesia. Lima program studi baru yang tengah dirintis, di antaranya; S3 Ilmu Kebudayaan, S2 Sumberdaya Maritim, S2 Ekosistem Digital, S2 Manajemen Pendidikan, dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit.
Rencana ini mencerminkan pembacaan yang jeli atas apa yang oleh UNESCO, lewat laporan klasik Jacques Delors Learning: The Treasure Within (1996), disebut sebagai empat pilar pendidikan: belajar untuk mengetahui, berbuat, hidup bersama, dan menjadi diri sendiri. Program-program baru ini tidak berdiri sendiri; ia menjawab kebutuhan zaman digital, maritim, kesehatan, dan kebudayaan sekaligus menegaskan bahwa Pascasarjana tidak ingin sekadar mengikuti arus, melainkan turut membentuknya.
Sebelum menutup catatan ini, izinkan saya menundukkan kepala sejenak. Sejarah tidak pernah ditulis oleh satu tangan, dan kemajuan UNDANA serta Pascasarjananya hari ini adalah akumulasi dari ribuan tangan yang tak selalu tercatat namanya. Terima kasih kepada para pendiri dan sebelas Rektor UNDANA yang telah menanam, merawat, dan mewariskan estafet kepemimpinan dari generasi ke generasi. Terima kasih kepada para Direktur Pascasarjana UNDANA; dari Prof. August Benu, Prof. Ginting, Prof. Lien Bale Therik, Prof. Alo Liliweri, Prof. Manggadas Lumba Gaol, hingga Prof. Tans Felix, yang masing-masing menambahkan bata demi bata pada bangunan keilmuan yang kini kita nikmati bersama.
Terima kasih pula kepada seluruh dosen yang telah mendidik dengan sabar dan mendalam, kepada tenaga kependidikan yang bekerja senyap namun menjadi tulang punggung layanan akademik, kepada mahasiswa dan alumni yang membawa nama Pascasarjana UNDANA ke berbagai penjuru sebagai politisi, birokrat, akademisi, pengusaha, maupun aktivis lingkungan; dan kepada segenap civitas academica UNDANA yang dengan caranya masing-masing telah ikut merawat rumah ilmu ini. Filsuf Yunani Aristoteles pernah berujar bahwa keunggulan (arete) bukan tindakan sesaat melainkan kebiasaan yang dirawat terus-menerus; apa yang UNDANA dan Pascasarjananya capai hari ini adalah buah dari kebiasaan baik yang dirawat lintas generasi, oleh lintas tangan, tanpa henti. Menariknya, catatan reflektif ini diluncurkan tepat pada momen yang sarat makna.
Bersamaan dengan berlangsungnya Musyawarah I Alumni Pascasarjana UNDANA, Rektor Prof. Jefri S. Bale justru memilih hadir langsung bersama timnya di bumi Flores, memastikan keterdampakan UNDANA benar-benar mengakar di sanubari masyarakat yang tertimpa musibah gempa bumi. Hanya berselang dua jam sejak gempa mengguncang pada 15 Agustus 2026, Rektor Jefri Bale telah bergerak cepat membentuk Satuan Tugas UNDANA PEDULI, dan hingga hari ini telah memberangkatkan lebih dari tiga gelombang tim taktis yang terdiri atas dosen, pegawai, dan mahasiswa.
Kecepatan respons ini bukan sekadar aksi kemanusiaan biasa; ia adalah bukti konkret dari apa yang oleh para pakar pendidikan tinggi disebut sebagai ‘the engaged university’, universitas yang tidak berhenti pada menara gading keilmuan, melainkan turun langsung menjawab kebutuhan paling dasar masyarakatnya. Ernest Boyer, dalam gagasannya tentang scholarship of engagement (1996), menegaskan bahwa pengetahuan yang dihasilkan kampus baru menemukan maknanya yang utuh ketika diejawantahkan untuk kepentingan publik, bukan sekadar disimpan dalam jurnal dan ruang kelas. Apa yang dilakukan Rektor Jefri Bale dan Satgas UNDANA PEDULI di Flores adalah penegasan hidup dari visi "World Class, Locally Relevant University": bahwa keunggulan global sejati diukur justru dari sejauh mana ilmu pengetahuan mampu hadir di titik paling rapuh dari kehidupan masyarakat yang dilayaninya.
Antropolog Clifford Geertz, dalam kajiannya tentang kebudayaan Nusantara sebagaimana tertuang dalam The Interpretation of Cultures (1973), mengingatkan bahwa identitas lokal bukan beban yang menghambat kemajuan, melainkan justru kerangka makna yang membuat kemajuan itu berarti. Dalam konteks Flobamorata, akronim yang menyatukan Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Rote; kekayaan budaya, kearifan lokal, dan semangat gotong royong adalah modal yang tidak dimiliki kampus lain di dunia. UNDANA dan Pascasarjananya berdiri di atas kekayaan itu, dan justru dari sanalah keunikan globalnya akan lahir.
Menyambut usia ke-64 UNDANA yang berhimpit dengan usia perak Pascasarjananya, ada harapan yang layak digaungkan bersama: bahwa dukungan alumni dan segenap pemangku kepentingan tidak berhenti pada seremoni, melainkan berlanjut pada kontribusi nyata, riset yang berdampak, jejaring yang produktif, dan keteladanan yang menular. Ekonom pembangunan Amartya Sen, dalam karyanya Development as Freedom (1999), pernah menegaskan bahwa pembangunan sejati adalah perluasan kebebasan dan kapasitas manusia untuk menjalani hidup yang mereka anggap bernilai; pendidikan tinggi, dalam kerangka ini, adalah salah satu instrumen paling ampuh untuk mewujudkannya.
Enam puluh empat tahun bukan usia muda, dan dua puluh lima tahun bukan usia yang bisa dianggap remeh untuk sebuah institusi keilmuan. Namun sebagaimana pohon tua yang justru pada usianya yang matang menghasilkan buah paling lebat, UNDANA dan Pascasarjananya kini berada pada momentum yang tepat untuk membuktikan diri: bahwa menjadi ‘World Class’ tidak berarti kehilangan wajah lokal, dan tetap ‘Locally Relevant’ tidak berarti berhenti bermimpi setinggi langit.
Maka izinkan catatan ini ditutup bukan dengan seremoni kata, melainkan dengan doa dan pengharapan yang bijak: semoga usia bukan sekadar angka yang bertambah, melainkan kedalaman yang terus bertumbuh; semoga setiap tantangan ke depan dijawab bukan dengan gentar, melainkan dengan sikap seperti akar yang justru mengokoh saat angin bertiup kencang.
Semoga Pascasarjana UNDANA terus menjadi rumah yang melahirkan ilmuwan berdampak, dan UNDANA terus menjadi taman tempat ilmu dan budaya tumbuh berdampingan, sehingga kelak generasi yang datang setelah kita tidak hanya mewarisi nama besar, tetapi juga mewarisi keteladanan untuk terus merintis, membangun, merawat, dan menjaga. Selamat Dies Natalis ke-64, Universitas Nusa Cendana. Selamat Ulang Tahun Perak, Pascasarjana UNDANA. Semoga akar yang kian dalam terus menopang dahan yang kian menjulang, hingga naungannya dirasakan bukan hanya oleh Flobamorata, tetapi oleh dunia.
(Sebuah catatan reflektif menyambut Dies Natalis UNDANA ke-64 dan Ulang Tahun Perak Pascasarjana UNDANA; Ditulis dalam rangka Dies Natalis UNDANA ke-64 dan Ulang Tahun Perak (25 tahun) Pascasarjana UNDANA, 2026. Direktur Pascasarjana UNDANA Periode 2026-2030)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Gempa Flores, NTT: Antara Kebutuhan Darurat dan Kapasitas Negara
81 Tahun Merdeka: Ekspor Satu Pintu, Ekonomi Berdaulat
Penerimaan Pajak Meningkat, Pemerintah Baru Memulai Ujian (Saatnya Pemerintah Membuktikan Kinerja)
Hari Anak Nasional 2026: Ketika Seremoni Lebih Nyaring daripada Perlindungan
Menemukan Arah Ekonomi Bangsa
Koperasi Merah Putih: Benteng Ekonomi Rakyat atau Wajah Baru Kapitalisme
Pajak Boleh Ditagih, Subsidi Jangan Disandera (Menyoal Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 dan Persoalan Batas Kewenangan Daerah)
Pidato Tidak Cukup, Saatnya Pemerintah Kabupaten Lembata Membuka Hasil Kerjanya
DILEMA PROFESIONAL MASUK PEMERINTAH: SALAH LANGKAH, MASUK PENJARA
Satu Aturan, Dua Kondisi Daerah yang Berbeda (Implementasi Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 Perlu Menyesuaikan Karakteristik Daerah)