Darurat Rabies di NTT: Mengapa "Juara Bertahan" Kematian Sulit Teratasi?

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 13x
Waktu Baca ± 2 Min
Bagikan Artikel
Darurat Rabies di NTT: Mengapa "Juara Bertahan" Kematian Sulit Teratasi?
Dr. Asep Purnama, Sekretaris Umum Komite Pencegahan dan Penanggulangan Rabies Flores dan Lembata Kredit: Dok. Teman Cerita NTT

Maumere – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tengah menghadapi krisis kesehatan serius yang terus menelan korban jiwa. Dalam sebuah diskusi mendalam bersama Sekretaris Umum Komite Pencegahan dan Penanggulangan Rabies Flores dan Lembata, Dr. Asep Purnama mengungkapkan data yang mengejutkan: NTT menduduki peringkat pertama angka kematian akibat rabies di Indonesia pada tahun 2025.

Puncak Gunung Es Kematian

Berdasarkan data yang dipaparkan, dari total 156 kematian akibat rabies di seluruh Indonesia, NTT menyumbang angka tertinggi dengan 30 korban jiwa. Tren kematian ini terus meningkat secara nasional sejak tahun 2018, membuat target Indonesia Bebas Rabies tahun 2030 dinilai tidak realistis oleh para ahli jika pola penanganan tidak segera berubah.

Akar Masalah: Dari Anjing Hingga Anggaran

Dr. Asep menjelaskan bahwa virus ini pertama kali masuk ke Flores pada tahun 1997 dan menyebar ke seluruh pulau hanya dalam waktu tiga tahun. Beberapa faktor utama yang menyebabkan rabies sulit dieliminasi antara lain:

  • Kepemilikan Anjing yang Tidak Bertanggung Jawab: Sekitar 99% penularan ke manusia berasal dari anjing yang diliarkan atau tidak diurus dengan baik oleh pemiliknya.

  • Mitos Vaksinasi: Masih banyak warga yang enggan memvaksin anjingnya karena mitos bahwa vaksin membuat anjing lemas, mandul, atau tidak bisa menjaga kebun.

  • Kurangnya Prioritas Anggaran: Pemerintah seringkali baru bergerak saat kasus sudah viral. Dr. Asep menekankan bahwa keseriusan pemerintah bisa dilihat langsung dari alokasi anggaran vaksinasi dalam APBD.

Solusi "Lockdown" Anjing dan Dana Desa

Sebagai solusi alternatif jika anggaran vaksinasi terbatas, Dr. Asep mengusulkan metode "Lockdown Anjing" selama enam bulan secara serentak. Dengan mengandangkan anjing, virus akan mati di dalam kandang pada anjing yang terinfeksi tanpa menulari yang lain.

Selain itu, keberhasilan di masa lalu seperti di Paroki Nilin menunjukkan bahwa keterlibatan tokoh agama dan penggunaan Dana Desa (sekitar Rp16 juta per desa) bisa menjadi kunci efektivitas vaksinasi massal.

Pesan untuk Masyarakat

Dr. Asep menutup dengan pesan kuat bagi warga:

  1. Jadilah pemilik anjing yang bertanggung jawab: Vaksin dan kandangkan anjing Anda.

  2. Segera bertindak jika digigit: Cuci luka dengan sabun dan segera ke puskesmas untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR).

"Anjing sehat, keluarga selamat," pungkasnya. Tanpa langkah nyata dan konsisten dari pemerintah serta masyarakat, ancaman rabies akan terus menjadi "teroris" yang mengintai nyawa warga NTT setiap harinya.**

Selengkapnya di Youtube Channel Teman Bicara NTT https://www.youtube.com/watch?v=9CwBlppekm8

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Video Terkait Artikel

Tonton ulasan selengkapnya

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan